Teman itu nikmat

oleh Al-Ustadz Abu Royyan
///

Allah ta’ala menundukkan pendengaran-pendengaran yang mendengar ucapan kita, juga menundukkan penglihatan dan perhatian yang diarahkan kepada kita.

Lalu kita tidak merespon perhatian dan ucapan mereka? Itu jelas kesalahan, jelas kurang adab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk menyingkirkan setiap yang berpotensi menjadi sebab kita larut dalam kesenangan sendiri, lalai dengan kawan dan sahabat yang duduk disekeliling kita.

Dalam riwayat Abu dawud, An-Nasai dan selainnya, sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan:

أن النبي  اتخذ خاتما فلبسه، ثم قال :
«شغلني هذا عنكم منذ اليوم:
إليه نظرة،
وإليكم نظرة؛
ثم رمى به. يعني:الخاتم».

Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memakai cincin lalu bersabda:

Sejak hari ini aku sibuk dengan cincin ini (yakni perhatian beliau terbagi karenanya, -pent)
Kulirik dia,
Aku lihat kalian,
lalu Beliau melemparkannya.
(As-Silsilah As-Shahihah (3/179), No. Hadis 1192)

Itu hanya sekedar cincin melekat di jemari kecil, bagaimana dengan Gadget yang telah mendarah daging, telah melekat di setiap hati??!

Si murid main hp di depan gurunya
Si suami tidak perhatian terhadap istrinya
Si gurupun tak sadar muridnya berkelahi

Wallahul Musta’an
Wa’alaihittiklan.

=====
Dinukil dari grup whatsApp At-Tauhid.Or.Id dan disunting oleh admin web dengan sedikit perbaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *