Bagaimana cara menyampaikan hadits lemah ??

Berkata Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam Majmu’ Syarhu Muhadzab (1/63) yang maknanya : “ Bahwa para ulama ahli hadits mengatakan apabila hadits lemah maka tidak boleh disampaikan (dengan Konteks ) “Rasulullah bersabda” , “ Rasululullah telah melakukan ini dan itu “ atau  “Rasulullah telah memerintahkan atau melarang ”. Serta tidak boleh pula mengatakan atas nama sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam,seperti “ Berkata Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu“ tidak pula mengatakan terhadap para tabi’in dan yang sesudahnya, selama hadits atau atsar tersebut lemah (yakni tidak dengan konteks yang memastikan .) Akan tetapi dengan konteks : “ Diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam “ atau “ Dinukilkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam “”

Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Tamamul minnah (hal. 40)  mengomentari ucapan ini yang intinya bahwa bahwa kaum muslimin sebagian besar tidak mengerti istilah ilmu hadits , sehingga mereka tidak bisa membedakan antara dibacakan kepada mereka dengan konteks “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda” atau “ Diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam “ Sehingga sepantasnya untuk menjelaskan kepada kaum muslimin bahwa hadits tersebut shahih atau hadits tersebut lemah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *